Direkt zum Hauptbereich

Wow dari TKI dan Aupair akhirnya saya menjadi Mahasiswa dan bekerja di Eropa, ini caranya.

Buat kalian yang bercita-cita untuk sekolah di luar negeri, namun punya kendala biaya, jangan khawatir, saya punya pengalaman yang sama dengan kalian.

Sebelum kalian membaca lebih lanjut, pesan saya satu dan ini memang sudah benar-benar terbukti dan saya adalah salah satu orang yang membuktikannya. 

Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Selama kalian memiliki tekad yang kuat untuk meraih sesuatu dan kalian berusaha semaksimal mungkin, maka saya yakin kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu.

Okey, memang saya sudah banyak bercerita tentang pengalaman saya ini, akan tetapi saya suka mengulang cerita ini, karena saya ingin kalian tidak patah semangat seandainya kalian belum kunjung mendapatkan apa yang kalian cita-citakan.



Saya mungkin bukan orang yang paling agamis yang pernah kalian temuin, akan tetapi selama saya menempuh kehidupan disini, saya banyak sekali merasakan adanya tangan-tangan tidak terlihat yang membantu saya dikala saya mengalami kesulitan. Bahkan sebenarnya tidak lama sebelum saya menulis artikel ini pun saya mendapat suatu berita baik yang membuat saya semakin yakin "Tuhan itu ada dan Dia sayang sama kita". Dan saya selalu mensyukuri itu. Kenapa saya bilang Dia sayang sama kita, karena saya adalah anak yang bandel! dan herannya sebandel-bandelnya saya, malah semakin terasa pertolongan itu. Wah sorry... sebenernya tema kali ini bukan tema Religi.

Saya sebenernya juga bukan terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Bahkan sebenarnya sebagian orang bilang bahwa keluarga saya adalah dari kelas menengah ke atas. Akan tetapi, tetap saja, untuk membiayai saya sekolah di Eropa masih diluar kemampuan mereka. Ayah saya adalah orang yang sangat susah untuk di mintain uang. Waktu saya kecil saya dan saudara saya harus menabung untuk bisa membeli mainan kesukaan kami. Saya masih ingat dulu saya dan kakak saya harus menabung cukup lama sampai akhirnya kami dengan bangga bisa membeli "Tamagochi"... ah, kenangan masa lalu sunguh indah. Tapi ada satu hal yang saya sangat kagumi dari ayah saya, yang menurut saya harus di tiru oleh ayah-ayah jaman sekarang: Untuk urusan pendidikan ayah saya tidak pernah ragu untuk merogoh koceknya. Walaupun kami tidak punya banyak mainan, tapi kami di kursuskan komputer, di les-kan bahasa inggris, pancak silat dan lain sebagainya. Hal itu semua-lah yang baru saya sadari ketika saya dewasa, bagaimana sayangnya Ayah saya sama kita dan bagaimana pentingnya pendidikan di masa kecil. Saya sangat berterima kasih kepada Ayah saya.

Oleh karena itu lah... ketika saya SMA dan memiliki keinginan untuk belajar bahasa asing, saya sangat bisa mengandalkan ayah saya. Saya tahu betul ayah saya tidak akan berfikir panjang untuk membayar uang kursus saya tersebut. Semua yang berkaitan dengan pendidikan dia ladeni. Disitulah awalnya saya bersentuhan dengan dunia ke-JERMAN-an. Saya mengikuti kursus bahasa Jerman di pusat studi Jerman UGM, sayang entah mengapa institusi ini sekarang sudah tidak ada lagi. Tidak lama saya belajar disana, perkembangan bahasa Jerman saya cukup pesat. Tiga bulan saya belajar bahasa Jerman, saya di beri tahu guru saya, Mas Iwan, bahwa ada kesempatan buat saya untuk bisa pergi ke Jerman, yaitu melalui program Aupair. Disitulah saya seperti mendapatkan jalan untuk bisa meraih cita-cita saya. Sebenarnya sejak hari itu, Jerman selalu ada di mimpi-mimpi saya.



Nanti kalau ada waktu saya lanjut lagi...

Singkat kata tidak terasa sudah sepuluh tahun saya meninggalkan Indonesia. Semoga tulisan ini bisa menjadi motivasi buat temen-teman untuk bisa meraih cita-cita.


Beliebte Posts aus diesem Blog

Culture Shock! Pengalaman Pertama Melihat Wanita Telanjang Di Eropa.

Betul, temen-temen gak salah baca judul post ini. Di seri blogger posts kali ini saya ingin berbagi sedikit beberapa pengalaman kultur shock saya selama saya tinggal di Eropa. Well... pada saat menulis blog ini, saya sudah 10 tahun tinggal di Eropa, dengan kata lain, ada cukup banyak yang bisa saya ceritakan ke kalian.

Sebelum saya mulai cerita ini perlu saya ceritakan bahwa sebelum saya pergi ke Eropa, saya belum pernah melihat wanita telanjang sama sekali temen-temen, kecuali dari filem porno atau dari melihat orang gila di jalanan. Waktu berangkat ke Jerman usia saya masih 19 tahun. Kebayangkan bagaimana "culun" dan "cupu" nya saya pada wakut itu.



Pada hari itu di Jerman adalah musim panas. Suhu udara nya kurang lebih 35 derajat, suhu yang cukup tinggi untuk penduduk Eropa. Saya masih tinggal di pinggiran kota Stuttgart waktu itu. Kalau tidak salah, itu adalah bulan ke tiga saya tinggal di Jerman. Saya tinggal bersama keluarga asuh saya yang kebetulan adalah seo…

Pacaran Dengan Bule, seperti apa, dan bagaimana caranya?

Hallo temen-temen semua, pertama-tama saya mau minta maaf kalau judul di atas kurang berkenan. Tulisan ini hanyalah sekedar intermezzo buat kalian yang sedang berjuang untuk berangkat ke Eropa. 
Tapi tentunya tulisan kali ini bukan berarti iseng-iseng, mungkin ada di luar sana temen-temen yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan diatas, who knows? Tema kita kali ini mungkin tidak banyak kaitannya dengan study di Jerman atau Au pair, akan tetapi seperti yang temen-temen pernah lihat sendiri, tidak jarang orang indonesia berpacaran atau bahkan menikah dengan orang asing. Mungkin ada dari kita yang penasaran seperti apa sih punya pacar bule? atau mungkin ada juga yang tidak suka dan cendrung berfikir negativ ketika melihat orang indonesia punya pasangan bule. Sebelum kita berperasangka yang macam-macam, ayo kita coba pelajari seperti apa sih punya pacar bule atau lebih tepatnya di konteks ini, orang Jerman.Pertama-tama untuk menyamakan persepsi, menurut kebanyakan orang, bule adalah: …